Warga Jelambar Ricuh dengan Petugas Penertiban Lahan RS !

Kericuhan pecah di kawasan Jelambar, Jakarta Barat, saat petugas melakukan penertiban lahan yang diklaim milik Rumah Sakit (RS) Soeharto Heerdjan. Bentrokan antara warga dan petugas tak terhindarkan, dipicu oleh sengketa lahan yang telah berlangsung lama.

Kronologi dan Pemicu Kericuhan

  • Pada hari Rabu, 26 Februari 2025, petugas dari RS Soeharto Heerdjan, didampingi aparat keamanan, melakukan penertiban lahan di Jalan Satria I, Jelambar.
  • Penertiban ini bertujuan untuk mengambil alih lahan yang diklaim milik RS, yang akan digunakan untuk perluasan fasilitas rumah sakit.
  • Warga setempat, yang telah mendiami lahan tersebut selama puluhan tahun, menolak penertiban dan melakukan perlawanan.
  • Kericuhan pun pecah, dengan aksi saling dorong dan teriakan histeris dari warga, terutama kaum perempuan.
  • Warga merasa tidak terima atas penertiban yang dilakukan pihak rumah sakit. Mereka juga mengaku tidak diberi kompensasi yang layak.
  • Pihak RS Soeharto Heerdjan mengklaim memiliki Sertifikat Hak Pakai (SHP) atas lahan tersebut, dan penertiban dilakukan untuk mengambil aset negara.
  • Kondisi semakin panas saat perwakilan dari pihak Rumah Sakit memasuki rumah warga. Warga yang tidak terima, meminta mereka untuk masuk ke rumah secara baik-baik tanpa melakukan kekerasan.

Duduk Perkara Sengketa Lahan

  • Sengketa lahan ini melibatkan warga RT 1 dan RT 2 di Jalan Satria I, Jelambar, dengan RS Soeharto Heerdjan.
  • Warga mengklaim telah mendiami lahan tersebut selama puluhan tahun, bahkan beberapa di antaranya sejak tahun 1963.
  • Sebagian warga merupakan pensiunan pegawai rumah sakit yang menempati rumah dinas.
  • Pihak RS Soeharto Heerdjan mengklaim memiliki bukti sah kepemilikan lahan berupa Sertifikat Hak Pakai (SHP).
  • Pihak RS mengklaim, terdapat total 51 rumah yang akan ditertibkan.
  • Warga merasa keberatan atas penertiban ini, karena mereka merasa memiliki hak atas lahan tersebut. Mereka juga mengeluhkan kurangnya sosialisasi dan kompensasi yang tidak memadai.

Kesimpulan

Kericuhan di Jelambar ini menunjukkan betapa kompleksnya masalah sengketa lahan di perkotaan. Diperlukan dialog dan mediasi yang konstruktif untuk mencapai solusi yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.