Membicarakan budaya Betawi tidak akan lengkap tanpa menelusuri Sejarah Ondel-Ondel Jakarta yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas ibu kota. Boneka raksasa yang tingginya mencapai dua setengah meter ini memiliki perjalanan panjang yang sangat menarik, bermula dari fungsi spiritual yang sangat sakral. Pada zaman dahulu, masyarakat Betawi membuat ondel-ondel sebagai personifikasi dari leluhur atau kekuatan gaib yang bertugas untuk menjaga kampung dari wabah penyakit dan gangguan roh jahat. Itulah sebabnya, tampilan wajah ondel-ondel zaman dulu cenderung terlihat menyeramkan dengan warna merah menyala pada laki-laki dan putih bersih pada perempuan.
Dalam konteks Sejarah Ondel-Ondel Jakarta, prosesi pengarakan boneka ini awalnya disebut dengan istilah “Barongan”. Ritual tersebut dilakukan dengan penuh khidmat, lengkap dengan sesajen dan iringan musik gambang kromong atau tanjidor. Wajah merah pada ondel-ondel laki-laki melambangkan keberanian untuk melawan kekuatan jahat, sedangkan wajah putih pada ondel-ondel perempuan melambangkan kesucian dan kebaikan. Keseimbangan antara maskulin dan feminin ini dipercaya sebagai simbol keharmonisan alam yang dapat memberikan keselamatan bagi warga yang bermukim di sekitarnya.
Seiring berjalannya waktu, Sejarah Ondel-Ondel Jakarta mengalami pergeseran fungsi yang sangat signifikan, terutama saat memasuki era modernisasi di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin. Ondel-ondel mulai diarahkan menjadi seni pertunjukan rakyat yang menghibur untuk menyambut tamu-tamu kenegaraan dan memeriahkan hari ulang tahun kota Jakarta. Penampilannya pun diubah menjadi lebih ramah dan estetik; wajah yang dulunya menakutkan kini lebih tersenyum, dan hiasan “kembang kelapa” di bagian kepala dibuat lebih warna-warni. Perubahan ini dilakukan agar boneka raksasa tersebut lebih mudah diterima oleh anak-anak dan menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Kini, eksistensi Sejarah Ondel-Ondel Jakarta telah bertransformasi total menjadi ikon pariwisata yang ikonik. Kita dapat dengan mudah menemukannya di berbagai pusat perbelanjaan, hotel berbintang, hingga kantor-kantor pemerintahan sebagai simbol selamat datang. Meskipun fungsi penolak balanya sudah jarang dipraktikkan secara ritual, nilai-nilai kebersamaan dan kegembiraan tetap melekat kuat dalam setiap penampilannya. Namun, tantangan muncul ketika ondel-ondel sering kali digunakan untuk mengamen di jalanan secara kurang layak, yang dapat mengaburkan nilai filosofis dan sejarah panjang yang dimilikinya sebagai warisan budaya luhur.
