Aksi memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di Jakarta pada Kamis (1/5/2025) diwarnai kericuhan. Aparat kepolisian dilaporkan mengamankan 18 orang yang diduga sebagai kelompok anarko. Insiden ini terjadi di tengah ribuan buruh dan elemen masyarakat lainnya yang turun ke jalan menyuarakan aspirasi terkait isu-isu ketenagakerjaan dan kesejahteraan sosial.
Awalnya, aksi berlangsung damai dengan orasi-orasi yang disampaikan oleh perwakilan berbagai serikat buruh dan organisasi masyarakat sipil. Mereka menyampaikan tuntutan terkait kenaikan upah, penghapusan outsourcing, jaminan sosial, dan kondisi kerja yang layak. Namun, situasi berubah ketika sekelompok orang yang diduga membawa atribut dan melakukan tindakan yang mengarah pada anarkisme terpantau di beberapa titik lokasi aksi, terutama di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha.
Menurut keterangan pihak kepolisian, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Wira Satya Triputra mengatakan bahwa 18 orang diamankan karena diduga melakukan provokasi dan tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Barang bukti berupa bendera hitam dan sejumlah atribut lain yang identik dengan gerakan anarko turut disita. Penangkapan ini memicu perdebatan di kalangan aktivis dan warganet mengenai proporsionalitas tindakan aparat dan kebebasan berekspresi.
Kericuhan ini menjadi catatan tersendiri dalam peringatan May Day di Jakarta tahun ini. Di satu sisi, semangat perjuangan buruh untuk mendapatkan hak-haknya tetap membara. Di sisi lain, insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang potensi penyusupan kelompok tertentu dalam aksi-aksi massa dan bagaimana aparat keamanan menanganinya.
Pihak kepolisian menyatakan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait keterlibatan kelompok yang diamankan. Sementara itu, perwakilan serikat buruh mengecam segala bentuk tindakan anarkis yang dapat mencederai esensi perjuangan buruh yang damai dan terorganisir. Mereka menegaskan bahwa agenda utama May Day adalah menyampaikan aspirasi pekerja secara konstruktif.
Situasi sempat memanas ketika aparat melakukan upaya pembubaran terhadap kelompok yang diduga anarko tersebut. Beberapa gesekan kecil antara massa dan petugas tidak terhindarkan, namun situasi berhasil diredam dengan cepat. Keberadaan kelompok ini di tengah aksi damai buruh disayangkan oleh banyak pihak, karena berpotensi menodai perjuangan utama para pekerja yang ingin menyampaikan aspirasi secara tertib dan aman.
