Candi-candi yang dibangun pada masa akhir Majapahit ini memiliki bentuk piramida berundak yang memukau, sangat mirip dengan punden megalitik dari era prasejarah. Struktur unik ini mencerminkan adanya penggabungan harmonis antara unsur-unsur kepercayaan pra-Hindu-Buddha dengan ajaran Hindu. Ini bukan sekadar arsitektur, melainkan perwujudan akulturasi budaya yang mendalam, menunjukkan adaptasi spiritual masyarakat Jawa pada masa transisi yang kompleks ini.
Pada periode akhir Majapahit, ketika pengaruh Hindu mulai bergeser dan animisme serta kepercayaan lokal kembali menguat, pembangunan candi-candi berundak ini menjadi relevan. Bentuk punden megalitik yang merupakan simbol pemujaan leluhur dan gunung suci, diintegrasikan dengan konsep dewa-dewi Hindu. Ini adalah strategi cerdas untuk mengakomodasi keyakinan lama dan baru secara simultan, sehingga tidak terjadi benturan budaya.
Raja-raja Majapahit terakhir, yang dikenal sebagai penguasa yang bijaksana, kemungkinan besar memiliki keterkaitan spiritual yang mendalam dengan situs-situs semacam ini. Mereka mungkin melihat bentuk piramida berundak sebagai cara untuk memperkuat legitimasi kekuasaan mereka, yang tidak hanya bersandar pada ajaran Hindu, tetapi juga pada penghormatan terhadap leluhur dan tradisi kuno yang mengakar kuat di masyarakat.
Candi-candi pada masa akhir Majapahit ini seringkali ditemukan di dataran tinggi atau lereng gunung, lokasi yang secara tradisional dianggap sakral. Pemilihan lokasi ini semakin menegaskan fungsi spiritualnya sebagai tempat untuk mendekatkan diri kepada Yang Ilahi, baik itu roh leluhur maupun dewa-dewi Hindu. Ini adalah tempat di mana manusia mencari pencerahan dan berkah.
Arsitektur candi di akhir Majapahit ini juga bisa diinterpretasikan sebagai simbol kembalinya identitas lokal setelah berabad-abad dominasi budaya asing. Meskipun Hindu dan Buddha tetap memegang peran penting, namun ada upaya untuk menonjolkan ciri khas Nusantara. Bentuk berundak adalah manifestasi visual dari semangat ini, sebuah pengingat akan akar budaya asli.
Relief-relief yang ditemukan di beberapa candi akhir Majapahit ini juga menarik perhatian. Berbeda dengan relief candi-candi Hindu-Buddha sebelumnya yang lebih terfokus pada kisah epik, relief di candi-candi ini seringkali menampilkan penggambaran makhluk mitologi lokal atau adegan yang lebih sederhana, mencerminkan perpaduan kepercayaan yang kuat.
Pelestarian candi-candi akhir Majapahit ini sangat penting. Mereka adalah bukti nyata evolusi budaya dan spiritual di Indonesia. Melalui penelitian dan konservasi yang berkelanjutan, kita dapat mengungkap lebih banyak misteri dan memahami bagaimana masyarakat kuno berhasil menyatukan berbagai elemen kepercayaan menjadi sebuah warisan yang unik dan berharga.
