Dalam beberapa kasus, budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat dapat menempatkan anak perempuan pada posisi yang lebih rentan terhadap kekerasan, terutama dalam konteks kekerasan seksual. Sistem nilai ini seringkali menempatkan laki-laki di posisi dominan, sementara perempuan dan anak perempuan dianggap subjek yang lebih rendah. Ini menciptakan lingkungan di mana kekerasan terhadap anak perempuan bisa lebih mudah terjadi dan sulit untuk diungkap.
Budaya patriarki kerap menanamkan pemahaman bahwa anak perempuan harus patuh, diam, dan tidak boleh melawan. Norma-norma ini dapat menghambat anak perempuan untuk menyuarakan pengalaman kekerasan yang mereka alami, karena takut akan stigma atau balasan dari pelaku atau bahkan dari anggota keluarga sendiri. Ini adalah minimnya pemahaman dalam masyarakat tentang pentingnya kesetaraan gender.
Dampak pandemi COVID-19 juga memperparah kerentanan anak perempuan di bawah budaya patriarki. Pembatasan mobilitas dan isolasi sosial memaksa mereka berada lebih lama di rumah, terkadang dengan pelaku, dan jauh dari lingkungan pelindung seperti sekolah atau komunitas. Ini meningkatkan risiko kekerasan dalam rumah tangga yang tidak terdeteksi, terutama terhadap anak perempuan yang lebih rentan.
Faktor ekonomi yang sulit juga dapat berinteraksi dengan budaya patriarki untuk meningkatkan risiko kekerasan. Dalam beberapa keluarga, tekanan finansial dapat menyebabkan orang tua mengutamakan anak laki-laki atau melihat anak perempuan sebagai “beban” atau komoditas, yang dapat meningkatkan kerentanan mereka terhadap eksploitasi dan kekerasan, yang akan sangat merugikan bagi anak perempuan.
Meskipun peningkatan pelaporan kasus kekerasan anak telah terjadi, banyak kasus yang berakar pada budaya patriarki mungkin masih tersembunyi. Anak perempuan yang menjadi korban mungkin takut melaporkan karena ancaman keluarga, rasa malu, atau keyakinan bahwa itu adalah “aib” yang harus disembunyikan. Ini adalah potensi efek serius dari budaya yang tidak mendukung korban.
Paparan media sosial dan internet juga membuka celah baru bagi eksploitasi seksual anak perempuan secara online. Predator memanfaatkan norma budaya patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih lemah, untuk memanipulasi dan mengeksploitasi anak perempuan melalui platform digital. Ini menunjukkan bahwa ancaman ini terus berevolusi dan sangat berbahaya.
Penanganan masalah kekerasan anak yang berakar pada budaya patriarki membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Edukasi kesetaraan gender harus digalakkan di semua lini masyarakat, dari keluarga hingga sekolah dan komunitas. Penting untuk meningkatkan kualitas pemahaman tentang hak-hak anak perempuan dan melawan norma-norma yang diskriminatif, sehingga anak perempuan dapat terlindungi dengan baik.
