Kabar baik mulai menyelimuti wilayah Nusa Tenggara Barat seiring dengan berhentinya hujan lebat yang mengguyur selama beberapa hari terakhir. Kondisi banjir Sumbawa Barat mulai surut di sebagian besar titik pemukiman, memungkinkan warga untuk mulai kembali ke rumah masing-masing guna membersihkan sisa-sisa lumpur dan sampah. Namun, kembalinya warga ke rumah bukan berarti masalah telah selesai sepenuhnya. Endapan sedimen yang tebal di dalam rumah memerlukan tenaga ekstra untuk dibersihkan, sementara perabotan rumah tangga banyak yang mengalami kerusakan parah akibat terendam air bah selama lebih dari 48 jam.
Meskipun situasi keamanan mulai terkendali, saat ini warga keluhkan minimnya air yang layak dikonsumsi maupun untuk keperluan sanitasi dasar. Sumur-sumur warga tercemar oleh air banjir yang membawa berbagai kuman penyakit, sehingga tidak mungkin digunakan tanpa pengolahan yang matang. Pipa-pipa saluran air bersih milik PDAM juga dilaporkan mengalami kerusakan di beberapa titik karena terjangan arus, mengakibatkan distribusi air terhenti total. Warga terpaksa harus mengantre panjang di mobil tangki bantuan yang jumlahnya masih sangat terbatas dibandingkan dengan total populasi yang terdampak bencana tersebut.
Fenomena di mana banjir Sumbawa Barat mulai surut ini juga memicu kekhawatiran akan munculnya wabah penyakit kulit dan diare, terutama bagi anak-anak. Lumpur yang mengering berubah menjadi debu yang mengganggu pernapasan, sementara sisa genangan air menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Tim medis dari dinas kesehatan setempat mulai menyisir pemukiman untuk memberikan layanan pengobatan gratis dan pembagian kaporit untuk menjernihkan air sumur warga. Namun, bantuan tersebut dinilai belum merata hingga ke wilayah-wilayah pelosok yang akses jalannya masih sulit dilalui kendaraan logistik.
Selain masalah kesehatan, alasan mengapa warga keluhkan minimnya air bersih berkaitan erat dengan kebutuhan memasak di dapur-dapur mandiri. Tanpa air yang cukup, warga kesulitan untuk mengolah bahan pangan bantuan yang diterima dari posko darurat. Pemerintah daerah didesak untuk segera melakukan perbaikan infrastruktur air bersih sebagai prioritas utama dalam fase pemulihan ini. Bantuan tandon air darurat juga sangat dibutuhkan di titik-titik kumpul warga agar distribusi air bisa lebih efektif dan tidak menyebabkan kerumunan yang tidak teratur saat bantuan datang.
Seiring dengan keadaan banjir Sumbawa Barat mulai surut, masyarakat berharap adanya transparansi dalam penyaluran bantuan stimulan untuk perbaikan rumah. Gotong royong antarwarga terlihat sangat kuat, di mana mereka saling membantu membersihkan fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah agar bisa segera digunakan kembali. Meskipun tekanan psikologis akibat hilangnya harta benda masih terasa, fokus warga kini adalah mendapatkan akses air yang stabil. Pemerintah diharapkan segera merespon suara di mana warga keluhkan minimnya air bersih dengan tindakan nyata, agar proses pemulihan pascabencana ini berjalan lebih cepat dan bermartabat bagi para korban.
